Jl. Letjen Suprapto No.31

Telanaipura, Kota Jambi, Jambi 36361

(0741) 61692

Layanan Panggilan 24 Jam

mattaherrs@gmail.com

Bisnis, Penawaran, dan Kerjasama

Kanker, Stroke di RSUD Raden Mattaher Ditargetkan 2024 Selesai

Kerjasama antara Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, RS Kanker Dharmais dan RS Pusat Otak Nasional Dr. dr.Mahar Mardjono dengan RSUD Raden Mattaher Jambi resmi ditandatangani oleh Gubernur Jambi Al Haris.

Direktur Utama (Dirut) RS Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Dr.dr. Iwan Dakota mengatakan bahwa pelayanan stroke dan jantung peralatannya semua hampir sama, cuman yang membedakan itu kanker.

“Untuk jantung memang ditargetkan dalam 2 tahun ke depan harus naik kelas bukan hanya sampai tindakan intervensi tapi tindakan bedah jantung terbuka, selama ini tidak bisa harus dikirim ke Jakarta,” katanya di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jum’at (17/6/2022) malam.

Iwan kembali menegaskan bahwa 2 tahun paling lambat, tepatnya 2024 mendatang, target pelayanan operasi bedah jantung terbuka ini sudah mulai bisa dilakukan di RSUD Raden Mattaher Jambi. Terkait peralatan ruang operasi bedah jantung terbuka itu akan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

“Nanti dibantu peralatan ruang operasi, ruangan operasi pada bedah jantung itu cukup mahal, karena membutuhkan beberapa peralatan canggih termasuk untuk mengambil alih fungsi jantung,” ungkapnya.

Iwan mengungkapkan total-total biaya untuk standar ruangan bedah jantung terbuka itu hampir Rp 50 Miliar (M).”Itu akan kita berikan, dengan rincian bahwa Pemda pasti akan menyiapkan ruangannya, kami akan menyiapkan isinya dan melatih tenaganya, target cepat harus 2 tahun.

“Walaupun kami mungkin planningnya bukan 2 tahun, mungkin 6 tahun. Tapi karena perintah nya 2 tahun harus segera bisa. Kalau boleh satu kata pak ya,” jelasnya.

Terkait dengan peralatan penanganan Kanker, Dirut RS Kanker Dharmais dr R Soeke W Nindito menjelaskan jika hanya sebatas deteksi dini itu sudah bisa dilakukan di RSUD Raden Mattaher, akan tetapi pada saat pasien masuk ke fase lebih lanjut harus dilakukan radioterapi, yang mana alat nya belum dimiliki oleh rumah sakit pelat merah tersebut.

“Nah maka komitmen dari bapak Menteri Kesehatan, kita akan membantu alat tersebut, tetapi memang rumah sakit RSUD Raden Mattaher Jambi harus membuat bungker, sehingga nanti diharapkan dalam 2 tahun, kalau kanker itu selain pembedahan, kemudian kemoterapi itu seperti biasa dilakukan di sini tapi radioterapinya belum,” tuturnya.

Soeke menjelaskan, bilamana ini sudah terpenuhi maka RSUD Raden Mattaher sudah dipastikan menjadi pelayanan kanker yang lengkap. Terkait dengan SDM itu sudah ada untuk dilatih selama 6 bulan. Namun ketika belum ada, maka caranya adalah dengan menugaskan Nakes yang dibutuhkan, sama hal nya seperti langkah-langkah yang sudah dilakukan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

“Kalau sementara belum ada, maka menugaskan Nakes dari rumah sakit lain ataupun kolaborasi dengan rumah sakit Kanker Dharmais di Jakarta untuk pelatihan-pelatihan SDM selanjutnya,” ujarnya.

Soeke juga menilai komitmen dalam hal kesiapan daripada Pemerintah Daerah (Pemda) baik itu Gubernur Jambi dan Direktur RSUD Raden Mattaher sudah menyusun perencanaan sehingga nanti gedung itu bisa dibangun. Dan pada saat nanti pemerintah pusat akan membantu alat kesehatan, bungker sudah harus siap.

“Sebelum diberi, tentunya ini harus ada kolaborasi bagaimana menyatukan antara alat kesehatan itu dengan bangunan yang disiapkan, ini sudah melalui proses-proses itu. Bungker suatu bangunan yang akan ada mengandung sinar radiasi sehingga itu tidak boleh tembus dari ketebalan dindingnya. Berbeda dengan gedung lain, Biasanya ketebalan dinding bisa sampai 1-2 meter,  harus terpisah atau harus suatu layanan tersendiri,” tegasnya.

Selanjutnya, salah satu dari tim visitasi juga menambahkan, untuk unit stroke ternyata di RSUD Raden Mattaher Jambi sudah ada, alat MRI juga sudah ada termasuk CT scan dan Catlab. Tinggal lagi pelatihan tenaga bedah saraf yang felosif nya selama 6 bulan sehingga nanti bisa melakukan operasi bedah otak terbuka.

“Seperti untuk memasang klip penjepit pembuluh darahnya yang resiko pecah nah ini yang diharapkan nanti menjadi Rumah Sakit utama. Saat ini yang belum adalah bagaimana masyarakat itu bisa datang segera ke rumah sakit yang memang mampu melayani stroke. Karena setelah 4,5 jam setelah serangan itu harusnya sudah masuk ke rumah sakit yang memang memiliki mampu menangani tentang stroke itu yang belum,” bebernya.

Ia berharap kedepan dimulai dari lingkungan sekitar dan puskesmas harus lebih giat dalam mensosialisasikan tentang tanda tanda jantung dan stroke agar pasien bisa tahu kemana mereka harus berobat. “Biar enggak delay mampir dulu ke rumah sakit mana, rumah sakit mana tapi memang rumah sakit yang memiliki fasilitas yang memadai,” harapnya.(afm)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.